"Baca," ujar Master Chen.
"Tulislah karakter Dao (Jalan) di atas daun ini," perintah Master Chen. "Tanpa merobeknya. Tanpa tinta. Hanya dengan goresan qi mu." cersil mandarin lanjutan goresan di sehelai daun
Di hadapannya, seorang murid bernama Li Wei, yang telah belajar ilmu silat Mandarin lanjutan selama dua belas tahun, menantang sang guru. Bukan dengan pedang, tetapi dengan sehelai daun kering. "Baca," ujar Master Chen
"Dalam Cersil Mandarin lanjutan," jelas Master Chen, "pedang terhebat adalah niat . Goresan di sehelai daun mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu meluluhlantakkan. Kadang, ia hanya menuliskan kebajikan di atas kerapuhan, lalu membiarkan alam yang membacanya." Tanpa tinta
Goresan di sehelai daun adalah simbol penguasaan diri tertinggi dalam fiksi silat Mandarin—bahwa kekuatan sejati tidak pernah merusak keindahan, melainkan mengukir makna di atasnya dengan cinta kasih.
Di puncak Kuil Awan Sunyi, seorang tua duduk bersila di atas batu yang licin karena embun. Ia bukan pendekar biasa. Namanya Master Chen Wei—pendekar buta yang konon mampu membaca isi surat musuh hanya dengan meraba tekanan tinta di atas kertas.
Kekuatan tak kasat mata, presisi, dan filosofi Dao dalam seni bela diri.